Nikmatnya Kopi Lintong !!

Bagi penggemar kopi, nama Kopi Lintong tidak asing lagi. Kopi yang berasal dari Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) ini memang sangat popular karena aroma dan rasanya yang khas. Kabupaten Humbang Hasundutan adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara. Sebelum pemekaran wilayah pada 28 Juli 2003, wilayah ini masuk dalam Kabupaten Tapanuli Utara. Tidak begitu banyak yang mengetahui sejak kapan kopi jenis Arabika ini dibudidayakan di kawasan Bukit Barisan di Lintong Ni Huta Humbahas. Namun, berdasarkan sejumlah keterangan, pada tahun 1696 Belanda membawa kopi ke Batavia, kemudian mulai menanam kopi secara besar-besaran di perkebunan-perkebunan yang tersebar di Pulau Sumatera, Bali, Sulawesi dan juga Pulau Timor. Di pegunungan bukit barisan dekat Danau Toba, Kopi Arabika ditanam pertama kali pada tahun 1888. Lokasi penanaman kopi terbesar di Sumatera Utara pada masa itu adalah di Kecamatan Lintong Nihuta, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Nama Kopi Lintong/Sumatra Lintong Coffee Arabica diambil dari nama kecamatan Lintong Nihuta. Kopi Lintong bukan nama varietas kopi tetapi merupakan merek dagang di perdagangan internasional untuk kopi yang berasal dari Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Sekitar tahun 1999, Kopi Lintong telah menjadi salah satu andalan Sumatera Utara, melengkapi beragam kopi lainnya, seperti Kopi Sidikalang dan Kopi Mandailing.

Pada 2010, Kopi Lintong pun dikelola lebih maksimal, terlebih ketika sejumlah pengembang kopi mulai mengambil peran di kawasan Humbahas untuk menjadikannya sebagai produk ekspor dan termasuk kategori produk unggulan Indonesia. Bahkan, saat ini Arabika Lintong merupakan produk yang dicari sejumlah penikmat kopi. Pasar Eropa mampu menerima kopi ini hingga puluhan ton per tahun.

Seiring perkembangan waktu, Kopi Lintong dikategorikan sebagai kopi spesial karena memiliki aroma, bodi, dan rasa yang khas, memiliki tingkat kekentalan yang baik dan keasaman yang seimbang, juga mengandung rasa cokelat dan sedikit rasa rempah yang membuatnya semakin lebih nikmat. Tak heran jika kopi ini sudah ditemukan di banyak coffee shop yang menjamur beberapa tahun belakangan ini di Medan. Kopi ini pun ada di daftar menu sejumlah kedai kopi dengan berbagai konsep di Jakarta. Selain diminati pasar lokal dan nasional, kopi yang merupakan varietas Sigahar Utang, Jember, dan Onan Ganjang ini pun digemari penikmat kopi di berbagai belahan dunia.

Di musim penghujan sekarang ini, dengan cuaca yang dingin menusuk, lembab dan hujan deras yang hampir terus-menerus setiap hari, kerap memanggil rasa pilu sehingga semangat berkegiatan menurun. Minum kopi dalam kondisi sekarang ini memang nikmat. Tidak hanya memberikan rasa hangat, tapi juga bisa mengurangi rasa kantuk dan menimbulkan semangat. Sudahkan anda mencoba nimatnya Kopi Lintong??. Buruan…….!!!

Koperasi, masihkah dibutuhkan??

Sejarah kelahiran dan berkembangnya koperasi di negara maju dan negara sedang berkembang memang sangat diametral. Di negara maju koperasi lahir sebagai gerakan untuk melawan ketidakadilan pasar, oleh karena itu tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar. Bahkan dengan kekuatannya itu koperasi meraih posisi tawar dan kedudukan penting dalam konstelasi kebijakan ekonomi termasuk dalam perundingan internasional. Peraturan perundangan yang mengatur koperasi tumbuh kemudian sebagai tuntutan masyarakat koperasi dalam rangka melindungi dirinya. Sedangkan, di negara sedang berkembang, khususnya Indonesia koperasi dihadirkan dalam kerangka membangun institusi yang dapat menjadi mitra negara dalam menggerakkan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.

Ketika negara Republik Indonesia ini didirikan, para founding fathers memimpikan suatu negara yang mampu menjamin hajat hidup orang banyak dan diusahakan secara bersama. Hal itu, tidak mengherankan, sebab pemikiran dan gerakan sosialisme memang sedang menjadi trend pada waktu itu, untuk melawan para pengusaha kapitalis dan kolonialis yang dianggap membawa penderitaan di kalangan buruh, tani dan rakyat kecil lainnya. Tampak bahwa cita-cita membentuk negara Republik Indonesia, adalah untuk kemakmuran semua orang dengan bangun usaha yang diusahakan secara bersama; “koperasi”. Karena itu, kemudian, dalam penjelasan Pasal 33 UUD 1945 disebutkan, “…Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi”.

Sejak awal perkembangannya, koperasi mengalami pasang-surut. Berakhirnya orde lama dan dimulainya orde baru, maka terjadi perubahan-perubahan untuk mengembalikan fungsi dan hakiki dari gerakan koperasi Indonesia, agar dapat berjalan semurninya pasal 33 UUD 1945. Untuk itu secara berangsur-angsur dirumuskan kebijaksanaan baru yang memberikan kebebasan kembali kepada gerakan koperasi agar dapat bekerja sesuai dengan azas-azasnya sebagai sebuah sistem ekonomi sesuai yang diatur sangat jelas dalam UUD 1945 Pasal 33. Bisa dikatakan masa orde baru adalah masa kebangkitan koperasi, walapun bisa dikatakan lebih dominan masalah politik, namun kebijakan pemerintah orde dengan berbagai regulasi dan fasilitas memberi keleluasaan kepada koperasi untuk berkembang, khususnya kepada Koperasi Unit Desa (KUD). Namun berbagai regulasi dan kemudahan itu ibarat pisau bermata dua, melenakan. Ketidaksiapan para Pengurus koperasi dari sisi profesionalisme dan manajemen akhirnya membuat kurangnya daya saing yang dimiliki oleh koperasi melawan badan usaha yang lain.

Era globalisasi ekonomi dan leberalisasi perdagangan dunia memberikan dampak baik positif maupun negatif, tidak hanya kepada koperasi namun juga kepada badan usaha lainnya, swasta maupun negara. Sebagai contoh, Koperasi Produsen terutama koperasi pertanian memang merupakan koperasi yang paling sangat terkena pengaruh dampaknya, karena selama ini menikmati proteksi dan berbagai bentuk subsidi serta dukungan pemerintah. Dengan diadakannya pengaturan mengenai subsidi, tarif, dan akses pasar, maka produksi barang yang dihasilkan oleh anggota koperasi tidak lagi dapat menikmati perlindungan seperti semula, dan harus dibuka untuk pasaran impor dari negara lain yang lebih efisien.

Untuk koperasi-koperasi yang menangani komoditi sebagai pengganti impor atau ditutup dari persaingan impor jelas hal ini akan merupakan pukulan berat dan akan menurunkan perannya di dalam percaturan pasar. Sementara untuk koperasi yang menghasilkan barang pertanian unggulan untuk ekspor seperti minyak sawit, kopi, dan rempah serta produksi pertanian dan perikanan maupun peternakan lainnya, perdagangan bebas merupakan peluang emas. Karena berbagai kebebasan tersebut berarti membuka peluang pasar yang baru. Dengan demikian akan memperluas pasar yang pada gilirannya akan merupakan peluang untuk peningkatan produksi dan usaha.

Sedikit penjelasan di atas menggambarkan bahwa era globalisasi ekonomi dan leberalisasi perdagangan dunia bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan dan lonceng kematian bagi koperasi. Setidaknya sejak dini pelaku usaha koperasi mempersiapkan diri dengan melakukan peningkatan wawasan dan efisiensi produksi dan manajemen usaha, peningkatan daya serap pasar produk koperasi dan usaha-usaha kecil dalam negeri dan penciptaan iklim usaha yang kondusif. Sektor koperasi yang harus dikembangkan selain berkaitan dengan sektor produksi/pertanian adalah yang terkait dalam industri kreatif dan inovatif, handcraft, home industry, dan teknologi informasi.

Apakah lembaga koperasi bisa survive atau bisa bersaing di era globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan dunia? Apakah koperasi masih relevan atau masih dibutuhkan masyarakat, khususnya pelaku bisnis dalam era modern sekarang ini? Jawabnya: YA, buktinya bisa dilihat di banyak negara maju. Di Belanda, Rabbo Bank adalah bank milik koperasi, yang pada awal dekade 20-an merupakan bank ketiga terbesar dan konon bank ke 13 terbesar di dunia. Di banyak negara maju, koperasi juga sudah menjadi bagian dari sistem perekonomian. Ternyata koperasi bisa bersaing dalam sistem pasar bebas, walaupun menerapkan asas kerja sama daripada persaingan.

Di Amerika Serikat, 90% lebih distribusi listrik desa dikuasai oleh koperasi. Di Kanada, koperasi pertanian mendirikan industri pupuk dan pengeboran minyak bumi. Di negara-negara Skandinavia, koperasi menjadi soko guru perekonomian.

Di Indonesia, lima koperasi di Indonesia tercatat sebagai koperasi berskala internasional dan didaftarkan sebagai koperasi kelas dunia versi International Co-operative Alliance (ICA) yakni 300 Global Cooperative. Kelima koperasi tersebut adalah Koperasi Kospin Jasa Pekalongan dengan aset Rp 2,5 triliun, Koperasi Warga Semen Gresik Jawa Timur dengan aset Rp 529 miliar, Koperasi Peternak Susu Bandung Utara dengan aset Rp 233,7 miliar, Koperasi Obor Mas dengan aset Rp 200,8 miliar dan Induk Koperasi Simpan Pinjam dengan total aset Rp 33,7 miliar.

Oleh banyak kalangan, koperasi diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan bangsa Indonesia. Di dalamnya terkandung muatan menolong diri sendiri, kerjasama untuk kepentingan bersama (gotong royong), dan beberapa esensi moral lainnya. Hal tersebut berarti selama bangsa Indonesia tetap mempertahankan budaya adiluhung dan jiwa nasionalis, koperasi akan tetap tumbuh subur dan mampu menjadi salah satu pilar perekonomian nasional. Koperasi yang kuat dan mandiri serta mampu memberdayakan anggotanya akan menjadi akselerator untuk mempercepat pertumbuhan pembangunan ekonomi sehingga mampu membuka lapangan kerja dan mengurangi tingkat pengangguran, menurunkan tingkat kemiskinan serta memperbaiki pemerataan pendapatan masyarakat sehingga tujuan mensejahterakan masyarakat secara adil dapat terwujud.

Sebagai penutup, saya cuplikan secara singkat tulisan menarik ‘Sharing Economy dan Koperasi’ dari Yuswohady, seorang motivator terkenal dan penulis dari sekitar 40 buku mengenai pemasaran (http://www.yuswohady.com/2016/03/26/sharing-ekonomi-dan-koperasi/).

Salah satu manfaat sosial terpenting dari sharing economy adalah penciptaan wirausahawan individu (“individual entrepreneurs” atau sering juga disebut “micro-entrepreneurs”) melalui sebuah platform kolaborasi untuk mengubah aset menganggur (idle assets) menjadi layanan bernilai tinggi. Dalam kasus Gojek, wirausahawan individu itu adalah para pengojek yang bergabung dengan Gojek. Dalam kasus AirBnB, mereka adalah para pemilik rumah kosong atau kos-kosan yang memanfaatkan situs Airbnb.com. Ditengah membludaknya pengangguran di negeri ini, plaform sharing economy menjadi “dewa penyelamat” bagi rakyat kebanyakan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Saya menyebut perusahaan berbasis platform sharing economy sebagai “perusahaan rakyat” (people’s company). Kenapa? Karena perusahaan seperti Gojek, Uber, atau AirBnB mempekerjakan “rakyat kebanyakan” dengan pola kemitraan bagi hasil yang saling menguntungkan dengan pemilik platform. Pemilik platform memberikan tools yang memudahkan wirausahawan individu (pemilik motor, mobil, atau rumah kosong) menemukan konsumen, dan ketika terjadi transaksi, hasilnya dibagi berdua secara adil.

Dengan kemitraan semacam itu, potensi kewirausahaan rakyat mendadak menggeliat dan berpotensi menghasilkan kemakmuran yang lebih merata. Melihat potensi platform sharing economy sebagai alat strategis untuk mendistribusi kemakmuran, kita teringat pesan Bung Hatta mengenai koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Seharusnya model bisnis sharing economy bisa menjadi eksperimen mutakhir untuk mewujudkan cita-cita bung Hatta. Platform sharing economy seharusnya bisa menjadi miniatur dari ekonomi kerakyatan seperti divisikan Bung Hatta.

Untuk mewujudkannya platform sharing economy harus dimiliki dan dioperasikan oleh para wirausahwan individu (tukang ojek, pemilik mobil, pemilik rumah) dalam sebuah wadah koperasi. Dengan format koperasi maka platform ini betul-betul dikelola oleh dan untuk wirausahawan individu yang tergabung di dalamnya, di samping tentu untuk memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat sebagai konsumen. Di sini negara harus hadir untuk bernegosiasi dengan perusahaan global pemilik platform untuk secara bertahap mengakuisisi kepemilikan dan kemudian dalam jangka panjang mengalihkannya ke koperasi. Pemerintah harus mengkaji arus besar sharing economy ini secara menyeluruh dan menjadikannya momentum untuk menghidupkan kembali spirit kerakyatan Bung Hatta dengan mencangkokkan sistem koperasi ke dalamnya.

Masih ragukah anda dengan Koperasi???

(dari berbagai sumber).

Tahun Baru, Harapan Baru (dan Semangat Baru)

Sesungguhnya setiap tahun baru selalu membawa harapan baru dan semangat untuk bangkit dari keterpurukan hidup. Adakah orang yang tidak pernah mengalami kegagalan dalam perjalanan hidupnya? Rasanya tak seorangpun di dunia ini yang sekali bergerak terus meraih sukses. Sesungguhnya semua orang pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, besar atau kecil sangat relatif, karena kondisi setiap orang tidak sama.

Tumbuhkan keyakinan diri bahwa suatu waktu badai pasti berlalu dan bahwa tidak akan selamanya gelap pasti akan tiba waktunya datang terang. Saatnya membangun semangat baru dengan melepaskan diri dari belenggu kegagalan, menjadikan kegagalan pembelajaran hidup, menyusun rencana tahun kedepan, melakukan introspeksi untuk tidak mengulangi kesalahan. Jangan pernah putus asa karena bila orang sudah putus asa, berarti ia sudah mati.

Mari menumbuhkan Harapan Baru, Semangat Baru, dengan :

BERDO’A. Terus berdo’a memohon pertolongan dari Tuhan. Jangan mengatakan “saya telah berdo’a”. Teruslah berdo’a, karena kadang do’a kita tidak langsung dikabulkan atau kita belum benar-benar serius dalam berdo’a. Jika sampai saat ini do’a masih belum dikabulkan, artinya kita harus lebih khusuk dan lebih sering dalam berdo’a. Jangan lupa iringi dengan ibadah, karena bisa jadi kita berdo’a tetapi kita melupakan ibadah lainnya.

BERSERAH DIRI SECARA TOTAL. Bukankah harus berusaha? Ya, tentu saja. Berserah diri adalah menyerahkan segala urusan Tuhan, secara total. Benar-benar pasrah kepada-Nya. Berdo’a adalah langkah awal untuk berserah diri. Jika kita sudah menyerahkan urusan kepada Tuhan, maka konsekuensinya kita harus mengikuti bimbingan dan petunjuk-Nya. Jika ada ide, gagasan, dan peluang, segeralah sambut. Bertindaklah dengan segera, jangan diam. Bisa jadi itu adalah petunjuk dan bentuk pertolongan dari Tuhan.

BERTINDAKLAH. Jika Anda belum atau tidak merasa mendapatkan petunjuk, tetaplah untuk bertindak. Anda harus keluar mencari solusi. Bertindaklah dengan penuh keyakinan karena Anda sudah bedo’a dan berserah diri.

Salam Tahun Baru, dengan Harapan baru dan Semangat Baru.

Salam Kasih

Salam kasih,

Learn from yesterday, live for today, hope for tomorrow. The important thing is not to stop questioning”, Albert Einstein.

Baru saja kita semua melangkah di tahun 2017 dan meninggalkan tahun 2016. Kata bijak Einstein di atas, “belajar dari hari kemarin, hidup untuk hari ini, berharap untuk hari esok. Dan yang terpenting adalah jangan pernah berhenti bertanya-tanya” patut kita renungkan. Segala sesuatu yang kita kerjakan pada tahun-tahun sebelumnya harus menjadi pengalaman dan pelajaran yang berharga untuk modal melangkah di tahun 2017 dan mempersiapkan untuk masa depan. Poin terpenting adalah jangan pernah berhenti bertanya-tanya, artinya jangan pernah berhenti untuk belajar, mencari ilmu, menambah pengetahuan dan wawasan, karena kehidupan tak pernah berhenti memberi pelajaran, sepanjang hidup seseorang haruslah terus belajar karena kehidupan selalu berubah dan mengajari banyak hal-hal baru kepada manusia.

Sejak lama saya mempunyai keinginan untuk menulis segala sesuatu yang saya alami, ide-ide yang tiba-tiba muncul atau hasil perenungan, tukar pikiran dan adu argumen dengan para sahabat, membaca tulisan-tulisan, namun keterbatasan waktu dan pengetahuan belum memungkinkan untuk melaksanakan keinginan itu. Atas dorongan besar dari keluarga dan para sahabat, terwujudlah Jabmar Siburian Blog ini. Tentunya tulisan di Blog ini lebih kepada pengalaman, pergaulan, opini, membaca dan lingkungan kerja yang saya tekuni, yang penyampaiannya dikemas dengan ringan dan sederhana. Semoga tulisan di Blog ini memberi manfaat baik kepada saya pribadi, keluarga dan semua sahabat yang saya cintai.

Mangungkor honong bosi
Pora-pora di babana
Marpungu angka dongan
Masipaboa hatana

Salam,

Jabmar Siburian